Gejayan Memanggil soal Kenaikan Harga BBM: Rakyat Makin Sulit

1
Dengarkan Versi Suara

JALURINFOSULTRA.COM – Akun media sosial Gejayan Memanggil menyatakan semua pihak berhak marah atas kondisi hidup rakyat yang makin sulit untuk bertahan hidup saat ini. Pernyataan ini digaungkan usai Presiden Joko Widodo resmi menaikkan harga BBM pertalite hingga solar.
“Arahkan amarahmu, buat titik api di sekitarmu,” tulis akun Instagram @gejayanmemanggil, Selasa (6/9). CNNIndonesia.com telah diperbolehkan mengutip postingan tersebut.

Gejayan Memanggil juga menyinggung tindakan pemerintah yang kerap menguntungkan kelas penguasa melalui kebijakannya belakangan ini.

“Semua berhak marah, polisi menjelma mafia, pemerintah terus-terusan memukul kelas bawah dengan segala kebijakannya yang menguntungkan kelas penguasa. Para cukong oligarki bahan pokok dan energi semakin memecut hidup rakyat yang semakin sulit untuk bertahan,” seru akun tersebut.

Belum ada tanggapan dari Polri dan pemerintah tentang pernyataan yang tertulis dalam akun @gejayanmemanggil tersebut.

Gejayan Memanggil menilai bukan hanya mahasiswa dan aktivis yang berhak marah. Melainkan kalangan lain seperti ibu rumah tangga, pekerja serabutan, pengangguran, buruh, bahkan gelandangan juga berhak marah melihat kondisi saat ini.

“Untuk melihat realita, mereka yang duduk di atas sana, harus diturunkan paksa! Perlawanan harus terus membara!” bunyi keterangan tersebut.

Sebelumnya, sejumlah massa aksi dari kalangan mahasiswa dan buruh menggelar demonstrasi di berbagai daerah Indonesia belakangan ini. Mereka bergerak untuk menolak kenaikan harga BBM bersubsidi.

-iklan-

Pemerintah telah menaikkan harga Pertalite naik dari Rp7.650 per liter menjadi Rp10 ribu per liter; solar naik dari Rp5.150 menjadi Rp6.800 per liter; Pertamax dari Rp12.500 menjadi Rp14.500 per liter.

Menteri Keuangan Sri Mulyani menjelaskan alasan Jokowi menaikkan harga BBM jenis Pertalite, solar subsidi, dan Pertamax. Sri Mulyani mengklaim hal itu sejalan dengan kenaikan harga minyak mentah dunia jika dibandingkan dengan asumsi APBN 2022 yang hanya US$63 per barel.

Sri Mulyani mengatakan harga rata-rata minyak mentah Indonesia (Indonesian Crude Price/ICP) diproyeksi tembus US$105 per barel. Padahal, harga minyak mentah saat pandemi di bawah US$70 per barel.

“Anggaran subsidi yang selama ini dalam Perpres 98 Tahun 2022 di mana pemerintah sudah menaikkan tiga kali lipat,” ungkap Sri Mulyani dalam konferensi pers, Sabtu (3/9).

Ia memaparkan total alokasi subsidi energi semula hanya sekitar Rp150 triliun. Namun, angkanya melonjak menjadi Rp502,4 triliun.

“Ini dihitung berdasarkan rata ICP yang bisa mencapai US$105 per barel, kurs Rp14.700 per dolar AS dan volume dari Pertalite yang diperkirakan mencapai 29 juta kiloliter (kl), sedangkan volume solar disubsidi adalah 17,44 juta kl,” jelas Sri Mulyani.

Namun, ia mengakui harga ICP mulai turun dalam sebulan terakhir. Namun, belum kembali ke level saat pandemi covid-19 yang di bawah US$70 per barel. Dengan demikian, Kemenkeu menghitung subsidi energi tetap berpotensi bengkak meski pemerintah telah menaikkan harga pertalite dan solar subsidi.

Berdasarkan hitungan Kemenkeu, subsidi energi minimal naik menjadi Rp591 triliun jika rata-rata harga ICP sebesar US$85 per barel. Sementara, jika rata-rata ICP sebesar US$99 per barel, maka subsidi energi tembus Rp605 triliun.

“Apabila ICP di atas US$100 per barel maka total subsidi ke masyarakat dalam bentuk BBM masih akan mencapai Rp649 triliun,” ujar Sri Mulyani.

(cnn)

Komentar Pembaca