Memahami Cara Gila Barcelona Belanja Pemain Meski Banyak Utang

9
Dengarkan Versi Suara

JALURINFOSULTRA.COMBarcelona membuat gebrakan di bursa transfer musim ini dengan mendatangkan sejumlah bintang meski memiliki banyak utang.

Klub berjulukan Blaugrana tersebut mendapatkan tanda tangan Franck Kessie, Andreas Christensen, Raphinha, dan Robert Lewandowski. Dua nama terakhir memiliki banderol tinggi.

Untuk Rafinha dan Lewandowski, Blaugrana harus mengeluarkan kocek tak kurang dari 110 juta euro atau setara Rp1,6 triliun. Dua pemain lain datang dengan status bebas transfer.

Namun Barcelona belum bisa mendaftarkan pemain barunya ke operator kompetisi. Barcelona diberi tenggat hingga 31 Agustus oleh La Liga untuk membenahi status keuangan klub yang hingga kini masih minus.

Ya, saat ini Barcelona sedang menjalani masa salary cap. Aturan ini mendera Barcelona karena pemasukan dan pengeluaran belum stabil. Ekonomi Barcelona ibarat pepatah, ‘lebih besar pasak dari tiang’.

Akan tetapi mengapa Barcelona bisa belanja pemain meski keuangan minus? Ini karena Joan Laporta, sang presiden klub, bisa membuat langkah-langkah cerdik di tengah situasi yang menghimpit.

Pikiran Laporta hanya satu, Barcelona berprestasi. Tanpa prestasi utang tak bisa tertutupi. Karenanya pembelian pemain berkualitas dipaksakan Laporta.

Skema pertama yang digunakan dalam operasi ini adalah cicilan. Lumrah terjadi di Eropa klub mencicil biaya transfer. Pada 2020/2021 Barcelona tercatat sebagai klub pencicil dan pemberi cicilan terbesar kedua di Eropa.

Formula kedua melepas pemain-pemain berbanderol dan bergaji mahal. Beberapa pemain yang telah dilepas adalah Philippe Coutinho, Francisco Trincao, Rey Manaj, Moussa Wague, Clement Lenglet, dan Dani Alves.

-iklan-

Karena itu pula Laporta mendorong agar Frenkie de Jong ditebus Manchester United. Jika itu terwujud, total pemasukan dari penjualan dan peminjaman pemain mencapai Rp1,5 triliun.

Cara ketiga, Laporta menjual nama stadion. Tak kurang dana segar sebesar 70 juta poundsterling diperoleh untuk kerja sama berupa sponsor utama tim dan hak penamaan Stadion Camp Nou jadi Spotify Camp Nou.

Keempat 25 persen aset hak siar dijual. Menariknya pemasukan itu tak masuk ke rekening klub, melainkan dilepas kembali untuk menjadi sumber pemasukan lain yang lebih besar.

Kemudian kelima melepas aset berupa persentase merchandise sebesar 49,9 persen dalam kurun waktu tertentu. Tujuannya adalah mendapatkan dana di awal yang cukup besar untuk menutupi minus keuangan klub.

Dan keenam berutang ke firma asal Amerika serikat, Sixth Street. Berdasarkan laporan Marca, Barca mendapat suntikan dana 170 juta euro. Utang tersebut akan ditebus dalam cicilan selama 25 tahun.

Cara Laporta mendapatkan pinjaman sebesar ini di tengah krisis adalah dengan penawaran pembayaran berdasarkan persentase keuntungan dan bukan dengan skema suku bunga seperti banyak dilakukan dalam rumus utang piutang.

Dengan berbagai gebrakan ini Barcelona hampir bisa dipastikan tidak akan bangkrut dalam satu hingga dua tahun ke depan. Karena itu prestasi menjadi keharusan agar jerat utang tak makin mengganas.

Laporta bisa jadi juru selamat sementara Barcelona saat ini. Namun Laporta harus menjamin rencana keuangan klub matang dan bijaksana. Jika tidak, ragam kebijakan krisis ini jadi bumerang bagi Barcelona.

(abs/sry/cnn)

Komentar Pembaca