Dieksekusi Mati 91 Tahun Lalu, Remaja AS Dibebaskan dari Dakwaan!

20
Dengarkan Versi Suara

Washington DC – Seorang remaja kulit hitam di Amerika Serikat (AS) yang telah dieksekusi mati tahun 1931 silam atas kasus pembunuhan wanita kulit putih, dibebaskan dari dakwaan oleh pengadilan Pennsylvania pekan ini. Putusan pembebasan ini menyusul lobi yang terus dilakukan satu-satunya saudara perempuannya yang masih hidup.
Seperti dilansir AFP, Jumat (17/6/2022), Alexander McClay Williams masih berusia 16 tahun ketika dewan juri pengadilan yang semuanya kulit putih, menyatakan dia bersalah atas pembunuhan seorang wanita kulit putih bernama Vida Robare tahun 1930 silam. Williams dijatuhi hukuman mati oleh hakim pada saat itu.

Dia dieksekusi mati setahun kemudian dan mencetak sejarah sebagai narapidana paling muda yang dieksekusi mati di wilayah AS bagian timur. Namun, 91 tahun kemudian, seorang hakim distrik menggugurkan kasus pembunuhan itu dan menyatakan Williams tidak bersalah.

“Saya hanya senang bahwa akhirnya menjadi seperti yang seharusnya sejak awal,” ucap saudara perempuan Williams, Susie Williams-Carter, seperti dikutip media lokal Philadelphia Inquirer pada Kamis (16/6) waktu setempat.

“Kami hanya ingin itu digugurkan, karena kami mengetahui dia tidak bersalah dan sekarang kami ingin semua orang mengetahui itu juga,” imbuh Susie yang kini berusia 92 tahun.

Jaksa distrik Delaware County, Jack Stollsteimer, dalam pernyataannya menyebut kasus Williams digugurkan pada Senin (13/6) waktu setempat, setelah bertahun-tahun melalui proses litigasi.

“Ini merupakan pengakuan bahwa dakwaan terhadapnya seharusnya tidak pernah diajukan,” demikian pernyataan Stollsteimer.

Kasus ini menjadi pengakuan terbaru dari ketidakadilan rasial bersejarah dalam sistem hukum AS, yang menghukum dan dalam beberapa kasus, mengeksekusi mati warga Amerika tidak bersalah, banyak dari mereka kulit hitam, pada abad setelah Perang Sipil tahun 1861-1865 silam.

Dalam kasus pembunuhan ini, menurut pernyataan Stollsteimer, Williams yang masih remaja diinterogasi polisi sebanyak lima kali tanpa kehadiran pengacara atau orangtuanya. Dia juga menandatangani tiga dokumen pengakuan, meskipun kurangnya saksi mata atau bukti langsung yang melibatkannya.

-iklan-

Disebutkan juga oleh Stollsteimer bahwa ada bukti ‘substansial’ yang diabaikan atau tidak diperiksa pada saat itu. Bukti yang dimaksud mencakup sidik jari berdarah seorang pria dewasa yang ditemukan di dekat pintu yang ada di lokasi kejadian, yang difoto oleh polisi pada saat itu namun tidak pernah dibahas dalam persidangan.

Ada juga fakta bahwa korban menceraikan suaminya atas tuduhan ‘kekejaman ekstrem’ namun sang suami tidak pernah diperiksa sebagai tersangka.

“Kami meyakini bahwa perlindungan konstitusional untuk pemuda ini dilanggar dengan cara yang tidak bisa diperbaiki,” cetus Stollsteimer.(detik.com)

Komentar Pembaca